Jadi pada pagi hari yang sangat teramat indah setahun yang lalu di Bali, saya menggeliat dengan menggemaskan pada pukul 9 pagi di rumah, dan yang akan bikin kalian heboh adalah itu bukan weekend apalagi libur hore -- itu hari sekolah masuk, saya bangun jam segituan.
OK, lumayan heboh kan? Nggak sama sekali? Secuil pun nggak? *melipir ke sela-sela got*
Jadi sehabis menggeliat begitu menggemaskan melebihi kucing steril yang biaya hidupnya saja melebihi saya sendiri (bayangin aja, berjuta-juta habis seketika cuman untuk kucing. Saya dicekokin dua nasi kucing plus minum air putih setiap jam makan tiba dan mandi pakai sabun batangan saja sudah cukup. Gak perlu treatment lain -- palingan sabun muka untuk muka lebih fresh dan menutupi muka yang sungguh beler ini, dan sesaset tolak angin supaya tubuh fit sepanjang hari tanpa boker karena mulas tersipu angin) Saya ke bawah untuk sarapan dan minum obat. Karena, ya, sempat di tengah malam hidung mimisan hingga wastafel toilet berlumur darah. Mungkin bila ada orang yang masuk ke toilet bakal mengira terjadi penggrogotan manusia secara tragis. Sebegitu blepotannya memang darah yang muncrat di kamar mandi.
Sehabis makan dan ngobrol-ngobrol sebentar dengan pembantu, saya kebelet kencing tepat pukul 10 pagi. Saya lalu berlari pontang-panting menuju toilet atas. Kenapa saya lebih memilih toilet atas yang jauh ketimbang toilet bawah yang deket? Karena dengan usaha yang lebih untuk suatu hal -- seperti menahan kencing barusan -- dan berhasil, kenikmatannya akan menjadi dua kali lipat dari biasanya (mpretlah)
Saya berlari sesambu melakukan proses pembukaan celana. Namanya juga sudah di ujung tanduk, jadi sesudah sampai toilet penginnya tinggal ngerasain "cuurrrr" dan mendesah "aaaaahh" saja. Sesampai depan toilet. Saya membuka kolor dan memulai ritual "cuurrr" saya.
Lagi enak-enaknya kencing... EH TIBA-TIBA BUMI BERGETAR! kaget, kalap, resah, dan kencing yang blepotan kemana-mana seketika datang secara barengan. Untuk titit tidak gondal-gandul secara semena-mena, saya sempatkan diri untuk mengenakan celana lalu melihat keluar.
Sebelum melangkahkan kaki keluar kamar mandi, pembantu seketika teriak: " AWAS PESAWAT JATOH!" Saya langsung panik dengan muka melengos gak karuan lari keluar sambil mentidakpedulikan kolor yang sudah teresap air kencing karena belum sempat cebok tadi. Tolong dimaklumi, keadaan saat itu sangat chaos!
Keluar jauh dari rumah pun berhasil dilakukan. Dengan jiwa anak muda 0.12, saya ingin mengupdate status kejadian barusan. Tapi tunggu sebentar. HP KETINGGALAN DI DALEM RUMAH! Dengan semangat anak muda 0.12 juga dan bodo amat dengab resiko yang akan menimpa, saya lari lagi menuju tempat HP ditaruh dan mencoba balik lagi dengan selamat sentosa. Dan...HAH. Saya berhasil kembali keluar jauh dari rumah.
Saya lalu tercengang sebentar lalu mengingat teriakan pembantu tadi mengenai jatuhnya sebuah pesawat. Well. Gak ada bunyi ledakan tuh daritadi walau guncangan udah selesai. Ini pasti ada yang janggal.
"Mbak, tadi katanya ada pesawat jatuh?" tanya saya.
"Iya tadi rasanya kayak ada."
"Rasanya ada?"
Janggal. Saya yakin ini pasti gempa, bukan pesawat jatuh. Saya cek status teman-teman yang tinggal di Bali juga. Liat ada yang update: "Pacar ku dmn? :(" Wah jangan-jangan pacarnya itu termasuk penumpang pesawat jatuh tadi. Saya lalu scroll trus dan akhirnya nemu status: "GEMPAAAA!!"
yak betul, ternyata terjadi gempa. Dan ternyata pembantu saya tadu hanya terbawa suasana saja saat teriak-teriak ada pesawat jatuh.
"itu tadi gempa, Mbak, bukan pesawat jatuh" ujar saya.
Bila memang benar terjadi gempa. Berarti guncangannya luas banget dong daripada pesawat jatuh. Yang saya khawatirin di awal adalah nyokap yang sedang belanja mingguan. Lalu saya merembet mengkhawatirkan teman-teman yang lagi sekolah. Pasti mereka kenapa-kenapa, sekolah pasti kena dan hampir rubuh karena tingkat gedung lumayan tinggi. Tapi dua menit kemudian kekhawatiran saya tadi lenyap ketika mereka menggunakan kelas (yang terkena gempa) sebagai spot foto yang ajib dan extreme; dengan bangku-bangku dan meja-meja berjatuhan mereka berfoto ria tanpa ada beban, yang mereka rasakan malah senang-senang semringah karena sekolah dipulangin cepet. Kampretlah tadi mah masuk sekolah aja yah.
Kala dilihat dari temen-temen yang inocent tadi memang sepertinya gempa barusan tidak ada apa-apanya. Tapi jangan salah kaprah dulu, ternyata gempanya cukup cadas. Setelah dicek ke berbagai sumber. ternyata kekuatan gempanya 6,4 SK! Gede juga kan. Setelah melihat update-an orang-orang mengenai gempa barusab di Twitter. Jalan sampai ada yang retak bolong kebawah dasar bumi, rumah banyak yanf rubuh, korban luka maupun jiwa tak kalah banyak pun.
Kekhawatiran saya terhadap nyokap saya semakin mengada-ngada (dan persetan bagi teman-teman saya yang lagi hunting-hunting foto)
Ditelfon gak diangkat, disms gak dibales. Cukup lama saya menunggu, akhirnya sampai juga ke rumah dengan raga yang selamat.
Saya pun bersyukur nyokap masih bisa pulang selamat. Tapi bagaimana yang nasibnya tak seberuntung nyokap saya? Lagi belanja mingguan lalu ketimpa pohon tumbang? Lagi naik motor tertabrak truk yang sedang panik? Lagi jalan santai tiba-tiba jalan terbelah menjadi dua?
Bersyukur nyokap masih bisa pulang, bersyukur nyokap masih tersenyum lebar di hadapan saya. Bersyukur, bahwa nyokap nasibnya masih beruntung daripada nyokap-nyokap di luar sana.









